BOOK REVIEW
ANATOMI SISTEM SOSIAL
REKONSTRUKSI NORMALITAS RELASI
INTERSUBYEKTIVITAS DENGAN PENDEKATAN SISTEM
M. HUSNI MUADZ
DISUSUN OLEH :
PRIMA ARIANTO PEMBANGUN
NIM : 14913171
KONSENTRASI :
PENDIDIKAN ISLAM
DOSEN : Drs. YUSDANI M.Ag.
PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER STUDI
ISLAM
FAKULTAS ILMU AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2015
Bookreview
Judul Buku : Anatomi Sistem Sosial Rekonstruksi
Normalitas Relasi Intersubyektivitas dengan Pendekatan Sistem
Penulis : M. Husni Muadz
Pengantar : Triono Soendoro, dr, M.Sc, M.
Phill, Ph. D
Penerbit : Institut Pembelajaran Gelar
Hidup (IPGH)
Tahun : 2013
Terbit : 2014
Anatomi Sistem Sosial
Rekonstruksi Normalitas Relasi Intersubyektivitas dengan
Pendekatan Sistem
Prima Arianto P.
- Pendahuluan
Dunia semakin maju,
dimana Negara adi daya dengan kajian-kajian sosiologi modern menggunakan
kebebasan plus rasionalitas dianggap sebagai prinsip ideal dalam membentuk
system sosial. Kebebasan menjadi sosok pemikiran yang ideal yang diikuti oleh para pemikir-pemikir barat
seolah-olah menjadi ide yang cemerlang untuk ditiru dan tidak ada pengalahnya. Para
sosiolog dan teoritisasi ilmu-ilmu social penganut mazhab
liberalism-individualisme dan turunan-turunannya, masih berkutat pada upaya
untuk mengkompromikan antara kebebasan dengan rasionalisme yang nampaknya akan
selalu menemui jalan buntu, penulis menemukann suatu ide yang patut untuk
diperhitungkan oleh para pemikir ilmu sosial perlunya Rekonstruksi Normalitas
Relasi Intersubyektivitas dengan Pendekatan Sistem yang dirasa cukup menarik
untuk dikupas lebih dalam tentang karya cerdas M. Husni Muadz.[1]
Sebelum membahas lebih
jauh ada baiknya kita mengenal dulu apa yang dimaksud dengan system. Menurut
beberapa ilmuan system Secara etimologis berasal dari bahasa Yunani systema
artinya sehimpunan dari bagian-bagian atau komponen-komponen yg saling
berhubungan satu sama lain secara teratur dan merupakan suatu keseluruhan.
Sistem adalah sesuatu yg terdiri dari sejumlah unsur atau komponen yg selalu
pengaruh-mempengaruhi dan terkait satu sama lain oleh satu atau beberapa asas. Suatu kompleksitas dari saling ketergantungan
antar bagian-bagian, komponen-komponen, dan proses-proses yang melingkupi
aturan-aturan tata hubungan yang dapat dikenali. Suatu tipe serupa dari saling
ketergantungan antar kompleksitas tersebut dengan lingkungan sekitarnya.[2]
- Pembahasan Pokok Pemikiran M. Husni Muadz
1. The Ideal State of Social Order (Rekonstruksi Normalitas
Organisasi Sistem Sosial)
1.1. Reorientasi Ilmu-Ilmu Sosial Kemanusiaan
Ada beberapa
perbedaan yang mendasar yang menyebabkan perbedaan antara dua ilmu. Perbedaan
yang mendasar diantaranya, ilmu-ilmu
Eksakta, data atau fenomena dianggap relatif homogen, dengan prediktabilitas
yang relatif tinggi. sedangkan dalam ilmu-ilmu sosial , datanya bersifat sangat
heterogen, kompleks dan sering perilakunya tidak mudah ditebak. Data-data ilmu-ilmu kemanusiaan pada subyek-subyek yang
sama dan ditempat yang sama tetapi diambil pada waktu yang berbeda, akan
menghasilkan data yang tidak persis sama.[3]
Bagan
1.1 Struktur Ilmu Eksakta
Salah satu contoh the ideals of natural order diberikan
toulmin berkaitan dengan hukum pertama newton, hukum inertia dimana objek
diklaim memiliki perilaku yang terbebas dari semua bentuk tekanan ( forces),
termasuk tekanan dari berat benda itu sendiri. nah dalam pengalaman sehari-hari
kita tidak akan menjumpai sebuah benda yang berperilaku sesuai dengan pola
ideal ini, dan selalu saja terdapat deviasi, besar atau kecil dari perilaku
ideal itu. Berdasarkan kenyataan ini dibuatlah hukum (laws), misalnya; hukum grafitasi
untuk menjelaskan alasan-alasan kenapa terjadi deviasi-deviasi tersebut. [4]
Perbedaan krusial ilmu-ilmu social dan ilmu-ilmu eksakta.
Para ilmuan eksakta sebelum melakukan kegiatan empiriknya mencoba membangun
model teoritik-normatif umum terlebih dahulu, sedangkan para ilmuan social
langsung melakukan kegiatan empiriknya, dan secara ad. hoc. membuat “teori”
untuk menjelaskan hasil observasinya. Akibatnya, para ilmuan social tidak
memiliki kerangka teoretic normative formal untuk menilai mana
fenomena-fenomena social yang normal dan mana yang devian.
Bagan
1.2 Struktur Ilmu-ilmu Sosial
Bila langkah-langkah ini yang dilakukan dalam ilmu ilmu
social, maka dalam domain kajian masing-masing, para ilmuan social akan dengan
mudah mengidentifikasi secara empiris fenomena-fenomena mana yang memiliki pola
perilaku yang sehat dan alami, dan yang mana yang tidak alami, yaitu yang telah
mengalami proses deviasi-deviasi tertentu.[5]
1.2. Pendekatan Sistem Sebagai Kerangka Teoretik Rekonstruksi Sistem
Sosial
Konsep-konsep Teoritik
A. Keutuhan (Unity)
Tidak ada system tanpa adanya unity dan sebaliknya
setiap kesatuan selalu dapat dilihat sebagai suatu system. Tanpa
kesatuan yang ada hanyalah kumpulan atau tumpukan. Tumpukan adalah komponen-komponen
tanpa hubungan yang kebetulan berada pada ruang yang sama atau yang berdekatan.[6]
B. Organisasi dan Struktur Sistem
Organisasi system adalah pola dasar hubungan antar komponen
yang langsung berkontribusi terhadap lahirnya keutuhan. Struktur adalah wujud atau
materialisasi dari komponen-komponen dan hubungan dan hubungan antar komponen
yang bisa dilihat secara kongkrit. Saya sejak waktu masih bayi secara fisik
memiliki organisasi yang sama dengan saya sekarang ini sekalipun secara
structural saya telah mengalami perubahan yang luar biasa.[7]
C. Determinisme Struktur Sistem
Perilaku ditentukan oleh struktur internal dari
system.sesuatu yang diluar hanya memberikan pengaruh dan jenis hubungannya
adalah hubungan pengaruh-mempengaruhi. Dan tetap sebagai penentunya adalah
struktur internalnya.
D. Keterhubungan dan Penyesuaian Struktural
Bagan 1.3 Sistem dengan identitas yang tidak
berubah
Bagian
kiri bukan system segi empat karena ada hubungan yang terputus, bagian kanan
contoh system segi empat, karena semua bagiannya terhubung.[8]
E.
Sirkularitas
Sirkularitas
Bagan
1.4 Sirkulasi pengaruh struktur dan komponen yang tidak pernah putus
Interaksi antar komponen yang bekerja berdasarkan prinsip
sirkularitas dinamis ini adalah “the defining characteristics” dari sebuah
system organisme hidup dan sebuah komponen akan berhenti menjadi komponen bila
ia berhenti memiliki hubungan tertentu dengan lainnya.[9]
F. Fitur Kebaruan (Emergent Properties)
Emergent properties adalah elemen kebaruan yang
muncul dari interaksi keseluruhan komponen system, yang penyebab kemunculannya
tidak bisa dilacak ke dalam komponen-komponen sistem tertentu
1.3. Nilai-nilai Konstitusi Organisasi Sistem Sosial Normal
A. Manusia dalam Perspektif kedalaman:
Tarian di Dua Dunia
Bagan 1.5 Manusia jika dilihat dengan prespektif keluasan
Yang hilang dalam
prespektif ini adalah kesadaran akan dimensi “dalam” diri manusia, bagaimana
mungkin kita bisa melihat dan menemukan kedalaman isi yang ada dalam dimensi
“dalam” dalam dunia luar? Isi level 3 tidak akan kita temukan dalam level 1
atau level 2, karena isi level 3 hanya ada dalam level 3, yang berada diatas
hirarki level 1 dan level 2.
Yang kita temukan
adalah prespektif dengan dimensi
”kedalaman“ bukan dimensi “keluasan” . dalam prespektif “kedalaman” kita
kembali ke hirarki atau kompleksitas kejadian kita, kompleksitas konstitutif
kita.[10]
Dilihat dari prespektif “kedalaman” manusia bukan bagian
dari system alam. Manusia melampaui keduanya, karena unsur-unsur dalam physiosphere
(A) dan biosphere (B) adalah elemen
konstitutif material dari manusia. Bukankah keseluruhan tidak tidak bisa
menjadi bagian dari bagian-bagiannya? Jadi selama ini yang kita tidak sadari
adalah adanya gap (tidak adanya konsistensi logis) antara kompleksitas
eksistensi (realitas ontologis, yang terdiri atas ABC) dengan kesadaran akan
kompleksitas eksistensi itu (kesadaran epistemic tentang realitas ontologis,
yaitu kesadaran bahwa diri kita terdiri atas ABC)[11]
B. Kesadaran, Kehendak dan Cinta
Kesadaran yang melahirkan konsep tentang “diri” atau konsep
tentang “aku” sebagai pelaku. Sifat turunan dari kesadaran intersubyektif ini
adalah kebebasan. Kebebasan lahir Karena didalamnya terdapat kehendak.
Rasionalitas adalah pembatas dari kebebasan kehendak.
1.4. Organisasi Sistem Sosial Normal
A. Organisasi Sistem Individu
è
Kebenaran, kejujuran dan
ketulusan
Ketulusan
dan kejujuran memiliki hubungan langsung dengan kebenaran, keduanya berfungsi
ebagai katalis dari nilai kebenaran. Dikatakan katalis karena keduanya
menjembatani nilai kebenaran dengan tindakan[12]
è
Kepercayaan, kehendak dan
Tindakan
Keyakinan adalah sikap mental yang
berkaitan dengan obyek tertentu. Seperti fakta. Percaya >< tidak percaya,
Ragu >< tidak ragu. Hubungan antara keyakinan dan tindakan bersifat tidak
langsung keduanya dimediasi oleh kehendak. Penggerak dari sebuah tindakan
adalah kehendak. Tanpa kehendak, tindakan tidak akan terjadi secara sengaja.
B. Organisasi Sistem Sosial
è
Nilai-nilai dalam
Organisasi System Sosial: Kebenaran, kehendak, dan Cinta
Bagan 1.7 Hubungan sirkuler antara struktur system social engan struktur system perilaku individu
Kepercayaan berkaitan dengan
kebenaran yang diekspresikan dalam tindakan, kehendak adalah penggerak atau
sumber dari tindakan, dan cinta adalah spirit dan tujuan dari tindakan.[13]
1.5. Struktur Sistem Sosial Noormal
Relasi organisasional yang menyatukan individu dalam system
tidak boleh mengalami perubahan (necessarily an invariant) karena ia
berfungsi sebagai “medium” konservasiidentitas dan begitu juga sebaliknya,
sesuai prinsip sirkularitas.[14]
2. Prinsip-prinsip Normalitas Organisasi Intersubyektivitas
Rekognitif dalam Sistem Sosial
2.1. Membangun Organisasi Intersubyektivitas Rekognitif Melalui
Pembelajaran Rekognitif
è
Relasi Manusia dan
Kesadaran
è
Membangun Organisasi
Intersubyektivitas Rekognitif Melalui Pembelajaran Rekognitif
è
Dialog dan Pembelajaran
Moralitas
è
Motif-motif: untuk kami
atau untuk kita?
è
Mengejar ketertinggalan
dari Alam
2.2. Institusi Social sebagai Institusi Pembelajaran
Intersubyektivitas – Rekognitif
Living systems mempertahankan
keberadaan dengan selalu mengkonservasi keutuhan (unity) dirinya. Unity
adalah emergence yang merupakan hasil dari interaksi semua komponen yang
dilakukan secara rekursif sesuai pola interaksi yang dituntut organisasi
system.[15]
2.3. Dialog sebagai Area Pembelajaran Membangun Relasi
Intersubyektivitas Rekognitif
Bagan
2.1 Sirkularitas dialog atau komunikasi sebagai arena pembelajaran nilai-nilai
organisasi dalam system social.
Dialog dibuat dengan tujuan untuk berdialog, dialog dimulai
dari kebenaran, subyektif-kebenaran tahap pertama- yang harus diekspresikan
dalam dialog oleh individu dalam bentuk perkataan dan perbuatannya yang iklas
dan jujur. Kemudian dialog dilanjutkan untuk mendapatkan kebenaran
intersubyektif. Kebenaran tahap kedua, yang dibangun melalui dialog yang jujur
dan melahirkan tindakan kolektif
berdasarkan kebenaran-kebenaran
intersubyektif yang lebih tinngi itu, kemudian dialog dilanjutkan pada siklus
berikutnya dan hasil kebenaran yang lebih tinggi itu pada akhir siklus tersebut
akan menjadi input bagi kebenaran
subyektif baru bagi individu-kebenaran tahap pertama-yang tentu harus
diekspresikan dalam bentuk tindakan dan ucapan yang ikhlas dan jujur.[16]
C. PENUTUP
Para ilmuan dalam
merumuskan penelitianan dan kajiannya dalam masalah social biasa menggunakan perspektif
emik dan perspektif etik. Perspektif
emik adalah pendeskripsian fenomena dari sudut pandang orang yang diteliti,
sedangkan perspektif etik adalah mendeskripsikan fenomena berdasarkan konsep-konsep
sosiologi Melalui analisis-analisis sosiologis.[17] Dalam
buku ini penulis lebih banyak menganalisa system yang telah ada kemudian beliau
mencoba merekonstruksinya dengan menggunakan pendekatan system dan beliau
memakai dua prespektif. Akan tetapi lebih condong kepada perspektif etik.
Kegelisahan terhadap
sistem social yang telah ada dengan cara berpikir yang dihiasi oleh pemikaran para
filsafat yunani dan pemikiran liberalism yang dimunculkan oleh para tokoh-tokoh
dunia terdapat kecacatan dan kejanggalan yang menurut M. Husni Muadz perlu di
rekonstruksi. Beliau berusaha memasukan unsur agama, keyakinan, cinta,
keikhlasan, kehendak, dan beberapa istilah lainnya kedalam filsafat dan system
social yang telah ada dengan menyoroti pendalaman terhadap relasi intersubyektif
yang bersifat rekognitif dan bukan hanya kepada kognitif sebagaimana yang
dipahami oleh kebanyakan orang.
Kontribusi tulisan
beliau untuk dunia Islam adalah beliau berusaha memasukkan nilai-nilai etika
dan moral yang terkandung didalam agama tanpa harus menyebutnya dalam istilah
yang asing akan tetapi meminjam istilah yang sudah friendly, sehingga
mudah diterima dan dipahami baik oleh orang muslim khususnya maupun non muslim
untuk memahami tanpa harus merasa adanya kekhususan pemikiran beliau terbatas
untuk orang islam saja, seperti beliau berusaha memasukkan pandangan kedalaman,
sebagai konsep dari ayat Alqur’an yang mempunyai arti : “telah tampak kerusakan
didarat dan dilautan disebabkan oleh tangan manusia, supaya Allah merasakan
kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali(kejalan
yang benar) (Q.S. Ar Room:41” , ketika manusia berbuat kerusakan akan berakibat
kepada rusaknya alam, dan apabila alam telah rusak maka manusia juga akan
menyebabkan rusaknya kehidupan manusia juga. Dan beliau berusaha menyinkronkan
ayat yang mempunyai arti “ sesungguhnya Allah telah menjadikan manusia sebagai
kholifah di permukaan bumi ini (Q.S. Al Baqoroh:30)”, adanya alam akan
mempunyai dikarenakan adanya manusia, akan tetapi ketiadaan manusia akan
mengakibatkan tidak bermaknanya alam ini, Karena manusia sebagai kholifah maka
baik dan buruknya alam semesta ditentukan oleh manusia itu sendiri.
Menurut teori Fisika
F=m.a
Menurut M. Muadz F≠m.a
Atau pak Muadz
mencontohkan dalam observasi struktur kimia.
Untuk fenomena
non-intentional anda bisa berperan sebagai pengamat penuh tanpa keterlibatan
apapun sebagai orang dalam dan menjadi bagian dari dunia kimia, tapi untuk
fenomena yang berssifat intentional, pengamat murni tidak dimungkinkan, seperti
contoh penyebrang jalan yang tergopoh-gopoh yang belum diketahui apa motifnya.[18] beliau
memberikan solusi kepada umat manusia cara terbaik untuk membina kehidupan
sosial international dengan cara menganalisis problem dan masalah yang ada
secara mendalam kemudian dikembalikan kepada formula yang standart atau normal
dengan meluruskan apa yang harusnya dikerjakan dalam relasi intersubjektivitas dengan system yang ditawarkan oleh M. Husni
Muadz dengan mengedepankan etika dan moral bukan seperti yang telah berlaku
didunia modern saat ini dengan mengedepankan nilai ekonomi kemudian nilai ilmu
pengetahuan dan seni dan yang terakhir adalah nilai etika akibatnya kita
berlomba-lomba setiap hari berbuat sesuatu untuk merusak system dan mengarah
kepada eksploitasi alam untuk memenuhi nafsu dari system yang terbalik[19].
Kesimpulan saya teori M. Husni Muadz secara tidak langsung telah diadopsi oleh
Pemerintah RI dalam K13 dengan memajukan pendidikan berkarakter yang
mengedepankan pendidikan etika dan moral.
Referensi
Abdullah,
Taufik, 2006, Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman, Ed.1, Jakarta: PT. RajaGrafindo
Persada
Hatsin, Abu,
2007, Islam daan Humanisme Aktualisasi Humanisme Islam ditengah Krisis Humanisme
Univeral, Cet, 1, Semarang: IAIN Walisongo Semarang.
Muadz, M.
Husni, 2014, Anatomi Sistem Sosial Rekonstruksi Normalitas Relasi
Intersubyektivitas dengan Pendekatan Sistem, Cet. I, Jakarta: IPGH
Nasikun, “Sistem Sosial Indonesia”, dikutip dari http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Grendi%20Hendrastomo,%20MM,%20MA./kumpulan%20sistem%20sosial.pdf
pada hari Minggu tanggal 29 Maret 2015 jam 15.51 WIB
Ruianto, Yayan, Fenomena Kekerasan Sosial dan Struktur Majemuk Masyarakat Indonesia, Jurnal
AKP│ Vol. 1 │ No. 1 │ Februari 2012 di download dari http://download.portalgaruda.org/article.php?article=19443&val=1229,
pada hari Minggu tanggal 29 Maret 2015 jam 16.19 WIB
Al Qur’an
Terjemah, 1989, PT Parja Jakarta, Ditasyheh oleh DEPAG 1399 H, Jakarta
[1] M. Husni
Muadz, 2013, Anatomi Sistem Sosial Rekonstruksi Normalitas Relasi
Intersubyektivitas dengan Pendekatan Sistem, Cet. I, (Jakarta: IPGH, 2014),
hlm.114
[2]
Nasikun, “Sistem Sosial Indonesia”, dikutip dari http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Grendi%20Hendrastomo,%20MM,%20MA./kumpulan%20sistem%20sosial.pdf
pada hari Minggu tanggal 29 Maret 2015 jam 15.51 WIB
[3]
M. Husni Muadz, 2013, Anatomi Sistem Sosial Rekonstruksi Normalitas Relasi
Intersubyektivitas dengan Pendekatan Sistem, Cet. I, (Jakarta: IPGH, 2014),
hlm.27
[4]
Ibid, hlm. 33
[5] Ibid, hlm. 35
[6]
Ibid, Hlm. 58
[7]
Ibid, Hlm. 64
[8]
Ibid, Hlm. 69
[9]
Ibid, Hlm. 73
[10]Ibid,
hlm. 98
[11]
Ibid, hlm. 101
[12]
Ibid, Hlm. 162
[13]
Ibid, Hlm. 179
[14]
Ibid, Hlm. 210
[15]
Ibid, Hlm. 311
[16]
Ibid, Hlm. 381
[17]
Seymour Smith C., Macmillan
Dictionary of Antropology (London: Macmillan Press, 1993), 186. Data
juga didapat dari penelitian seorang mahasiswa yang namanya tidak dicantumkan.
“anatomi sistem social” ,Dikutip dari http://digilib.uinsby.ac.id/771/4/Bab%201.pdf
pada hari Minggu tanggal 9 April 2015 jam 08.48 WIB
[18]
M. Husni Muadz, 2013, Anatomi Sistem Sosial Rekonstruksi Normalitas Relasi
Intersubyektivitas dengan Pendekatan Sistem, Cet. I, (Jakarta: IPGH, 2014),
hlm.343
[19]
Ibid, Hlm. 362










Tidak ada komentar:
Posting Komentar