Sabtu, 23 April 2016

MAKALAH OK BANGET


LINKNYA DISINI
DOWNLOAD SENDIRI AJA YA








BOOK REVIEW
ANATOMI SISTEM SOSIAL
REKONSTRUKSI NORMALITAS RELASI INTERSUBYEKTIVITAS DENGAN PENDEKATAN SISTEM

M. HUSNI MUADZ









DISUSUN OLEH :
PRIMA ARIANTO PEMBANGUN
NIM : 14913171
KONSENTRASI  :  PENDIDIKAN ISLAM
DOSEN  : Drs. YUSDANI M.Ag.

PROGRAM  PASCASARJANA MAGISTER  STUDI  ISLAM
FAKULTAS  ILMU AGAMA  ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2015



Bookreview
Judul Buku          : Anatomi Sistem Sosial Rekonstruksi Normalitas Relasi Intersubyektivitas dengan Pendekatan Sistem
Penulis                 : M. Husni Muadz
Pengantar           : Triono Soendoro, dr, M.Sc, M. Phill, Ph. D
Penerbit              : Institut Pembelajaran Gelar Hidup (IPGH)
Tahun                   : 2013
Terbit                    : 2014


Anatomi Sistem Sosial
Rekonstruksi Normalitas Relasi Intersubyektivitas dengan Pendekatan Sistem

Prima Arianto P.

  1. Pendahuluan
Dunia semakin maju, dimana Negara adi daya dengan kajian-kajian sosiologi modern menggunakan kebebasan plus rasionalitas dianggap sebagai prinsip ideal dalam membentuk system sosial. Kebebasan menjadi sosok pemikiran yang ideal  yang diikuti oleh para pemikir-pemikir barat seolah-olah menjadi ide yang cemerlang untuk ditiru dan tidak ada pengalahnya. Para sosiolog dan teoritisasi ilmu-ilmu social penganut mazhab liberalism-individualisme dan turunan-turunannya, masih berkutat pada upaya untuk mengkompromikan antara kebebasan dengan rasionalisme yang nampaknya akan selalu menemui jalan buntu, penulis menemukann suatu ide yang patut untuk diperhitungkan oleh para pemikir ilmu sosial perlunya Rekonstruksi Normalitas Relasi Intersubyektivitas dengan Pendekatan Sistem yang dirasa cukup menarik untuk dikupas lebih dalam tentang karya cerdas M. Husni Muadz.[1]
Sebelum membahas lebih jauh ada baiknya kita mengenal dulu apa yang dimaksud dengan system. Menurut beberapa ilmuan system Secara etimologis berasal dari bahasa Yunani systema artinya sehimpunan dari bagian-bagian atau komponen-komponen yg saling berhubungan satu sama lain secara teratur dan merupakan suatu keseluruhan. Sistem adalah sesuatu yg terdiri dari sejumlah unsur atau komponen yg selalu pengaruh-mempengaruhi dan terkait satu sama lain oleh satu atau beberapa asas.  Suatu kompleksitas dari saling ketergantungan antar bagian-bagian, komponen-komponen, dan proses-proses yang melingkupi aturan-aturan tata hubungan yang dapat dikenali. Suatu tipe serupa dari saling ketergantungan antar kompleksitas tersebut dengan lingkungan sekitarnya.[2]



  1. Pembahasan Pokok Pemikiran M. Husni Muadz

1.       The Ideal State of Social Order (Rekonstruksi Normalitas Organisasi Sistem Sosial)
1.1. Reorientasi Ilmu-Ilmu Sosial Kemanusiaan
Ada beberapa perbedaan yang mendasar yang menyebabkan perbedaan antara dua ilmu. Perbedaan yang mendasar diantaranya,  ilmu-ilmu Eksakta, data atau fenomena dianggap relatif homogen, dengan prediktabilitas yang relatif tinggi. sedangkan dalam ilmu-ilmu sosial , datanya bersifat sangat heterogen, kompleks dan sering perilakunya tidak mudah ditebak. Data-data  ilmu-ilmu kemanusiaan pada subyek-subyek yang sama dan ditempat yang sama tetapi diambil pada waktu yang berbeda, akan menghasilkan data yang tidak persis sama.[3]


 







Bagan 1.1 Struktur Ilmu Eksakta
Salah satu contoh the ideals of natural order diberikan toulmin berkaitan dengan hukum pertama newton, hukum inertia dimana objek diklaim memiliki perilaku yang terbebas dari semua bentuk tekanan ( forces), termasuk tekanan dari berat benda itu sendiri. nah dalam pengalaman sehari-hari kita tidak akan menjumpai sebuah benda yang berperilaku sesuai dengan pola ideal ini, dan selalu saja terdapat deviasi, besar atau kecil dari perilaku ideal itu. Berdasarkan kenyataan ini dibuatlah hukum (laws), misalnya; hukum grafitasi untuk menjelaskan alasan-alasan kenapa terjadi deviasi-deviasi tersebut. [4]
Perbedaan krusial ilmu-ilmu social dan ilmu-ilmu eksakta. Para ilmuan eksakta sebelum melakukan kegiatan empiriknya mencoba membangun model teoritik-normatif umum terlebih dahulu, sedangkan para ilmuan social langsung melakukan kegiatan empiriknya, dan secara ad. hoc. membuat “teori” untuk menjelaskan hasil observasinya. Akibatnya, para ilmuan social tidak memiliki kerangka teoretic normative formal untuk menilai mana fenomena-fenomena social yang normal dan mana yang devian.


 






Bagan 1.2 Struktur Ilmu-ilmu Sosial

Bila langkah-langkah ini yang dilakukan dalam ilmu ilmu social, maka dalam domain kajian masing-masing, para ilmuan social akan dengan mudah mengidentifikasi secara empiris fenomena-fenomena mana yang memiliki pola perilaku yang sehat dan alami, dan yang mana yang tidak alami, yaitu yang telah mengalami proses deviasi-deviasi tertentu.[5]

1.2. Pendekatan Sistem Sebagai Kerangka Teoretik Rekonstruksi Sistem Sosial
Konsep-konsep Teoritik
A.      Keutuhan (Unity)
Tidak ada system tanpa adanya unity dan sebaliknya setiap kesatuan selalu dapat dilihat sebagai suatu system. Tanpa kesatuan yang ada hanyalah kumpulan atau tumpukan. Tumpukan adalah komponen-komponen tanpa hubungan yang kebetulan berada pada ruang yang sama atau yang berdekatan.[6]

B.      Organisasi dan Struktur Sistem
Organisasi system adalah pola dasar hubungan antar komponen yang langsung berkontribusi terhadap lahirnya keutuhan. Struktur adalah wujud atau materialisasi dari komponen-komponen dan hubungan dan hubungan antar komponen yang bisa dilihat secara kongkrit. Saya sejak waktu masih bayi secara fisik memiliki organisasi yang sama dengan saya sekarang ini sekalipun secara structural saya telah mengalami perubahan yang luar biasa.[7]

C.      Determinisme Struktur Sistem
Perilaku ditentukan oleh struktur internal dari system.sesuatu yang diluar hanya memberikan pengaruh dan jenis hubungannya adalah hubungan pengaruh-mempengaruhi. Dan tetap sebagai penentunya adalah struktur internalnya.

D.      Keterhubungan dan Penyesuaian Struktural



                                                             
Bagan 1.3   Sistem dengan identitas yang tidak berubah

Bagian kiri bukan system segi empat karena ada hubungan yang terputus, bagian kanan contoh system segi empat, karena semua bagiannya terhubung.[8]


E.      



Sirkularitas



Bagan 1.4 Sirkulasi pengaruh struktur dan komponen yang tidak pernah putus
Interaksi antar komponen yang bekerja berdasarkan prinsip sirkularitas dinamis ini adalah “the defining characteristics” dari sebuah system organisme hidup dan sebuah komponen akan berhenti menjadi komponen bila ia berhenti memiliki hubungan tertentu dengan lainnya.[9]

F.       Fitur Kebaruan (Emergent Properties)
Emergent properties adalah elemen kebaruan yang muncul dari interaksi keseluruhan komponen system, yang penyebab kemunculannya tidak bisa dilacak ke dalam komponen-komponen sistem tertentu

1.3. Nilai-nilai Konstitusi Organisasi Sistem Sosial Normal
A.      Manusia dalam Perspektif kedalaman:
Tarian di Dua Dunia

 



Bagan 1.5 Manusia jika dilihat dengan prespektif keluasan

Yang hilang dalam prespektif ini adalah kesadaran akan dimensi “dalam” diri manusia, bagaimana mungkin kita bisa melihat dan menemukan kedalaman isi yang ada dalam dimensi “dalam” dalam dunia luar? Isi level 3 tidak akan kita temukan dalam level 1 atau level 2, karena isi level 3 hanya ada dalam level 3, yang berada diatas hirarki level 1 dan level 2.
Yang kita temukan adalah prespektif dengan  dimensi ”kedalaman“ bukan dimensi “keluasan” . dalam prespektif “kedalaman” kita kembali ke hirarki atau kompleksitas kejadian kita, kompleksitas konstitutif kita.[10]

 


 Bagan 1.5 Manusia jika dilihat dengan prespektif kedalaman

Dilihat dari prespektif “kedalaman” manusia bukan bagian dari system alam. Manusia melampaui keduanya, karena unsur-unsur dalam physiosphere  (A) dan biosphere (B) adalah elemen konstitutif material dari manusia. Bukankah keseluruhan tidak tidak bisa menjadi bagian dari bagian-bagiannya? Jadi selama ini yang kita tidak sadari adalah adanya gap (tidak adanya konsistensi logis) antara kompleksitas eksistensi (realitas ontologis, yang terdiri atas ABC) dengan kesadaran akan kompleksitas eksistensi itu (kesadaran epistemic tentang realitas ontologis, yaitu kesadaran bahwa diri kita terdiri atas ABC)[11]

B.      Kesadaran, Kehendak dan Cinta
Kesadaran yang melahirkan konsep tentang “diri” atau konsep tentang “aku” sebagai pelaku. Sifat turunan dari kesadaran intersubyektif ini adalah kebebasan. Kebebasan lahir Karena didalamnya terdapat kehendak. Rasionalitas adalah pembatas dari kebebasan kehendak.

1.4. Organisasi Sistem Sosial Normal
A.      Organisasi Sistem Individu
è Kebenaran, kejujuran dan ketulusan

 Bagan 1.6 Sirkulasi nilai dalam organisasi system individu


Ketulusan dan kejujuran memiliki hubungan langsung dengan kebenaran, keduanya berfungsi ebagai katalis dari nilai kebenaran. Dikatakan katalis karena keduanya menjembatani nilai kebenaran dengan tindakan[12]

è Kepercayaan, kehendak dan Tindakan
Keyakinan adalah sikap mental yang berkaitan dengan obyek tertentu. Seperti fakta. Percaya >< tidak percaya, Ragu >< tidak ragu. Hubungan antara keyakinan dan tindakan bersifat tidak langsung keduanya dimediasi oleh kehendak. Penggerak dari sebuah tindakan adalah kehendak. Tanpa kehendak, tindakan tidak akan terjadi secara sengaja.





B.      Organisasi Sistem Sosial
è Nilai-nilai dalam Organisasi System Sosial: Kebenaran, kehendak, dan Cinta

Bagan 1.7  Hubungan sirkuler antara struktur system social engan struktur system perilaku individu

Kepercayaan berkaitan dengan kebenaran yang diekspresikan dalam tindakan, kehendak adalah penggerak atau sumber dari tindakan, dan cinta adalah spirit dan tujuan dari tindakan.[13]

1.5. Struktur Sistem Sosial Noormal
Relasi organisasional yang menyatukan individu dalam system tidak boleh mengalami perubahan (necessarily an invariant) karena ia berfungsi sebagai “medium” konservasiidentitas dan begitu juga sebaliknya, sesuai prinsip sirkularitas.[14]
2.       Prinsip-prinsip Normalitas Organisasi Intersubyektivitas Rekognitif dalam Sistem Sosial
2.1. Membangun Organisasi Intersubyektivitas Rekognitif Melalui Pembelajaran Rekognitif
è Relasi Manusia dan Kesadaran
è Membangun Organisasi Intersubyektivitas Rekognitif Melalui Pembelajaran Rekognitif
è Dialog dan Pembelajaran Moralitas
è Motif-motif: untuk kami atau untuk kita?
è Mengejar ketertinggalan dari Alam
2.2. Institusi Social sebagai Institusi Pembelajaran Intersubyektivitas – Rekognitif
Living systems mempertahankan keberadaan dengan selalu mengkonservasi keutuhan (unity) dirinya. Unity adalah emergence yang merupakan hasil dari interaksi semua komponen yang dilakukan secara rekursif sesuai pola interaksi yang dituntut organisasi system.[15]


2.3. Dialog sebagai Area Pembelajaran Membangun Relasi Intersubyektivitas Rekognitif
Bagan 2.1 Sirkularitas dialog atau komunikasi sebagai arena pembelajaran nilai-nilai organisasi dalam system social.

Dialog dibuat dengan tujuan untuk berdialog, dialog dimulai dari kebenaran, subyektif-kebenaran tahap pertama- yang harus diekspresikan dalam dialog oleh individu dalam bentuk perkataan dan perbuatannya yang iklas dan jujur. Kemudian dialog dilanjutkan untuk mendapatkan kebenaran intersubyektif. Kebenaran tahap kedua, yang dibangun melalui dialog yang jujur dan melahirkan tindakan kolektif  berdasarkan  kebenaran-kebenaran intersubyektif yang lebih tinngi itu, kemudian dialog dilanjutkan pada siklus berikutnya dan hasil kebenaran yang lebih tinggi itu pada akhir siklus tersebut akan menjadi input bagi kebenaran  subyektif baru bagi individu-kebenaran tahap pertama-yang tentu harus diekspresikan dalam bentuk tindakan dan ucapan yang ikhlas dan jujur.[16]


C.      PENUTUP
Para ilmuan dalam merumuskan penelitianan dan kajiannya dalam masalah social biasa menggunakan perspektif  emik dan perspektif etik. Perspektif emik adalah pendeskripsian fenomena dari sudut pandang orang yang diteliti, sedangkan perspektif etik adalah mendeskripsikan fenomena berdasarkan konsep-konsep sosiologi Melalui analisis-analisis sosiologis.[17] Dalam buku ini penulis lebih banyak menganalisa system yang telah ada kemudian beliau mencoba merekonstruksinya dengan menggunakan pendekatan system dan beliau memakai dua prespektif. Akan tetapi lebih condong kepada perspektif etik.
Kegelisahan terhadap sistem social yang telah ada dengan cara berpikir yang dihiasi oleh pemikaran para filsafat yunani dan pemikiran liberalism yang dimunculkan oleh para tokoh-tokoh dunia terdapat kecacatan dan kejanggalan yang menurut M. Husni Muadz perlu di rekonstruksi. Beliau berusaha memasukan unsur agama, keyakinan, cinta, keikhlasan, kehendak, dan beberapa istilah lainnya kedalam filsafat dan system social yang telah ada dengan menyoroti pendalaman terhadap relasi intersubyektif yang bersifat rekognitif dan bukan hanya kepada kognitif sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakan orang.
Kontribusi tulisan beliau untuk dunia Islam adalah beliau berusaha memasukkan nilai-nilai etika dan moral yang terkandung didalam agama tanpa harus menyebutnya dalam istilah yang asing akan tetapi meminjam istilah yang sudah friendly, sehingga mudah diterima dan dipahami baik oleh orang muslim khususnya maupun non muslim untuk memahami tanpa harus merasa adanya kekhususan pemikiran beliau terbatas untuk orang islam saja, seperti beliau berusaha memasukkan pandangan kedalaman, sebagai konsep dari ayat Alqur’an yang mempunyai arti : “telah tampak kerusakan didarat dan dilautan disebabkan oleh tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali(kejalan yang benar) (Q.S. Ar Room:41” , ketika manusia berbuat kerusakan akan berakibat kepada rusaknya alam, dan apabila alam telah rusak maka manusia juga akan menyebabkan rusaknya kehidupan manusia juga. Dan beliau berusaha menyinkronkan ayat yang mempunyai arti “ sesungguhnya Allah telah menjadikan manusia sebagai kholifah di permukaan bumi ini (Q.S. Al Baqoroh:30)”, adanya alam akan mempunyai dikarenakan adanya manusia, akan tetapi ketiadaan manusia akan mengakibatkan tidak bermaknanya alam ini, Karena manusia sebagai kholifah maka baik dan buruknya alam semesta ditentukan oleh manusia itu sendiri.
Menurut teori Fisika F=m.a
Menurut M. Muadz F≠m.a
Atau pak Muadz mencontohkan dalam observasi struktur kimia.
Untuk fenomena non-intentional anda bisa berperan sebagai pengamat penuh tanpa keterlibatan apapun sebagai orang dalam dan menjadi bagian dari dunia kimia, tapi untuk fenomena yang berssifat intentional, pengamat murni tidak dimungkinkan, seperti contoh penyebrang jalan yang tergopoh-gopoh yang belum diketahui apa motifnya.[18] beliau memberikan solusi kepada umat manusia cara terbaik untuk membina kehidupan sosial international dengan cara menganalisis problem dan masalah yang ada secara mendalam kemudian dikembalikan kepada formula yang standart atau normal dengan meluruskan apa yang harusnya dikerjakan dalam relasi intersubjektivitas  dengan system yang ditawarkan oleh M. Husni Muadz dengan mengedepankan etika dan moral bukan seperti yang telah berlaku didunia modern saat ini dengan mengedepankan nilai ekonomi kemudian nilai ilmu pengetahuan dan seni dan yang terakhir adalah nilai etika akibatnya kita berlomba-lomba setiap hari berbuat sesuatu untuk merusak system dan mengarah kepada eksploitasi alam untuk memenuhi nafsu dari system yang terbalik[19]. Kesimpulan saya teori M. Husni Muadz secara tidak langsung telah diadopsi oleh Pemerintah RI dalam K13 dengan memajukan pendidikan berkarakter yang mengedepankan pendidikan etika dan moral.













Referensi

Abdullah, Taufik, 2006, Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman, Ed.1, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada
Hatsin, Abu, 2007, Islam daan Humanisme Aktualisasi Humanisme Islam ditengah Krisis Humanisme Univeral, Cet, 1, Semarang: IAIN Walisongo Semarang.
 
Muadz, M. Husni, 2014, Anatomi Sistem Sosial Rekonstruksi Normalitas Relasi Intersubyektivitas dengan Pendekatan Sistem, Cet. I, Jakarta: IPGH

Nasikun, “Sistem Sosial Indonesia”, dikutip dari http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Grendi%20Hendrastomo,%20MM,%20MA./kumpulan%20sistem%20sosial.pdf pada hari Minggu tanggal 29 Maret 2015 jam 15.51 WIB
Ruianto, Yayan, Fenomena Kekerasan Sosial dan  Struktur Majemuk Masyarakat Indonesia, Jurnal AKP│ Vol. 1 │ No. 1 │ Februari 2012 di download dari http://download.portalgaruda.org/article.php?article=19443&val=1229, pada hari Minggu tanggal 29 Maret 2015 jam 16.19 WIB
Al Qur’an Terjemah, 1989, PT Parja Jakarta, Ditasyheh oleh DEPAG 1399 H, Jakarta






[1] M. Husni Muadz, 2013, Anatomi Sistem Sosial Rekonstruksi Normalitas Relasi Intersubyektivitas dengan Pendekatan Sistem, Cet. I, (Jakarta: IPGH, 2014), hlm.114
[2] Nasikun, “Sistem Sosial Indonesia”, dikutip dari http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Grendi%20Hendrastomo,%20MM,%20MA./kumpulan%20sistem%20sosial.pdf pada hari Minggu tanggal 29 Maret 2015 jam 15.51 WIB
[3] M. Husni Muadz, 2013, Anatomi Sistem Sosial Rekonstruksi Normalitas Relasi Intersubyektivitas dengan Pendekatan Sistem, Cet. I, (Jakarta: IPGH, 2014), hlm.27
[4] Ibid, hlm. 33
[5]  Ibid, hlm. 35
[6] Ibid, Hlm. 58
[7] Ibid, Hlm. 64
[8] Ibid, Hlm. 69
[9] Ibid, Hlm. 73
[10]Ibid, hlm. 98
[11] Ibid, hlm. 101
[12] Ibid, Hlm. 162
[13] Ibid, Hlm. 179
[14] Ibid, Hlm. 210
[15] Ibid, Hlm. 311
[16] Ibid, Hlm. 381
[17]  Seymour Smith C.,  Macmillan  Dictionary of Antropology (London: Macmillan Press, 1993), 186. Data juga didapat dari penelitian seorang mahasiswa yang namanya tidak dicantumkan. “anatomi sistem social” ,Dikutip dari http://digilib.uinsby.ac.id/771/4/Bab%201.pdf pada hari Minggu tanggal 9 April 2015 jam 08.48 WIB
[18] M. Husni Muadz, 2013, Anatomi Sistem Sosial Rekonstruksi Normalitas Relasi Intersubyektivitas dengan Pendekatan Sistem, Cet. I, (Jakarta: IPGH, 2014), hlm.343

[19] Ibid, Hlm. 362